Abdul Kahar Mudzakkir: Pendidikan dan Perannya

Abdul Kahar Mudzakkir adalah seorang tokoh Muhammadiyah yang dianugerahi gelar pahlawan nasional.

Ia adalah salah satu tokoh yang bersama Soekarno, Moh, menandatangani Piagam Jakarta. Hatta dan beberapa tokoh lainnya.

Selain aktivitas politiknya, Abdul Kahar Mudzakkir juga berperan dalam pendidikan dan agama.

Abdul Kahar Mudzakkir adalah anggota dewan organisasi Islam internasional bernama Rabithah Alam Islamy pada tahun 1967.

Baca juga: M Jasin: Pendidikan, Geng, dan Perjuangan
pendidikan

Abdul Kahar Mudzakkir lahir pada tanggal 16 April 1907 di Kotagede, Yogyakarta.

Dia adalah anak dari Haji Mukmin.

Abdul Kahar Mudzakkir menyelesaikan pelatihan pertamanya di Sekolah Muhammadiyah di Kotagede. Namun, dia hanya bisa mencapai kelas dua.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Kemudian Abdul Kahar Mudzakkir melanjutkan pendidikannya di Pesantren Mambaul Ulum di Solo.

Ia kemudian melanjutkan studinya di Pondok Pesantren Jamseren di Solo dan Pondok Pesantren Tremas di Pacitan.

Pada tahun 1925, ketika berusia 16 tahun, Abdul Kahar Mudzakkir

memutuskan untuk pergi ke Kairo untuk melanjutkan pendidikannya.

Sesampainya di Kairo, Abdul Kahar Mudzakkir masuk ke Fakultas Darul Ulum Universitas Fuad (Kairo).

Di sana, Abdul Kahar Mudzakkir aktif di berbagai forum mahasiswa Indonesia.

Abdul Kahar Mudzakkir bahkan salah satu pendiri Jamiyyat Yubban al-Muslim atau Serikat Pemuda Muslim Dunia.

Pada tahun 1933, Abdul Kahar Mudzakkir juga menjadi salah satu pendiri Perhimpunan Indonesia Raya.

Baca juga: Syamun: Asal Usul, Peran dan Perjuangan
peran

Pada tahun 1938, Abdul Kahar Mudzakkir kembali ke Indonesia.

Ia mulai mengajar di Mu’allimin Muhammadiyah di Yogyakarta.

Kemudian Abdul Kahar Mudzakkir terlibat dalam struktur Majelis Pimpinan Muhammadiyah yang menitikberatkan pada perjuangan di bidang pendidikan.

Pertarungannya ternyata ketika Perang Dunia Kedua pecah, dia menjadi ketua organisasi pemuda dan departemen sosial.

Kemudian, pada tahun pertama kedatangannya di Indonesia, Abdul Kahar mulai terlibat dalam politik Indonesia.

Saat itu ia berusia 28 tahun dan pernah bergabung dengan Partai Islam Indonesia (PII). Ia juga terpilih sebagai salah satu komisaris mereka sampai tahun 1941.

Abdul Kahar Mudzakkir tidak hanya aktif di dalam negeri, tetapi juga terpilih sebagai ketua Perhimpunan Indonesia Raya di luar negeri.

Perhimpunan Indonesia Raya adalah organisasi gerakan yang secara aktif membawa Indonesia ke panggung dunia, bekerja untuk kemerdekaan Indonesia dan mencari dukungan internasional.

Bentuk gerakan yang dikutip oleh Mudzakkir antara lain siaran radio dan pertemuan publik.

Abdul Kahar Mudzakkir juga mendirikan kantor berita Indonesia Raya.

Memang, tuntutan Indonesia juga telah disiarkan di media massa Timur Tengah.

Kemudian, pada masa pendudukan Jepang, pada tahun 1942, Abdul Kahar Mudzakkir bergabung dengan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Di BPUPKI, dalam rapat-rapat yang diadakan, Abdul Kahar Mudzakkir menjadi sosok yang mewakili nasionalis Islam.

Menjelang kemerdekaan ia menjadi anggota Komite Sembilan, subkomite BPUPKI, bersama dengan Soekarno, Moh. Hatta dan tokoh lainnya.

Salah satu yang ia perdebatkan dalam proses tersebut adalah ketentuan pertama dalam Piagam Jakarta.

Bunyi perintah pertama adalah “Tuhan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi umatnya”.

Sebagai perwakilan kelompok Islam, Abdul Kahar Mudzakkir mendukung kewajiban hukum Islam atas dasar negara.

Setelah berbagai perdebatan dengan kaum nasionalis, bagaimanapun, kesepakatan bersama akhirnya tercapai, suara perintah pertama adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Yayasan UII

Menjelang berakhirnya pendudukan Jepang, Abdul Jahar mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI).

Ia menjalankan lembaga pendidikan itu bersama Moh. Hatta.

Kemudian pada tahun 1946, STI dipindahkan ke Yogyakarta yang kemudian berubah nama menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) pada 10 Maret 1948.

Di UII, Abdul Kahar tidak hanya sebagai pendiri, tetapi juga rektor pertama dan terlama di sana selama sekitar 12 tahun, 1948 hingga 1960.

Baca juga: Raja Haji Fisabilillah: Masa Muda, Perjuangan dan Akhir Kehidupan
Akhir Hidup

Abdul Kahar Mudzakkir meninggal pada 2 Desember 1973. Saat itu, Mudzakkir merasa tubuhnya tidak sehat.

Setelah memeriksa dirinya sendiri, dokter menyarankan agar dia dirawat di rumah sakit. Abdul Kahar Mudzakkir dirawat di RS PKU Muhammadiyah Ngabean.

Namun pada akhirnya, Abdul Kahar Mudzakkir harus melalui proses He .

LIHAT JUGA :

serverharga.com
wikidpr.id
riaumandiri.id
dekranasdadkijakarta.id
finland.or.id
cides.or.id

About The Author